Menulis buku, kalau dikerjakan sendiri sungguh memakan energi. sudah selesai naskahnya, ronde berikutnya menanti, menerbitkannya. Kalau mau masuk jalur kompetisi, ya kirim ke penerbit komersial. Kalau OK, berarti buku kita bagus. Masih ada satu ronde ujian lagi..laku atau tidak selama setahun. Trend menulis buku ini sempat mewabah. Orang kaya dan pensiun, mo dikenang sepanjang masa, lalu nulis buku. Ato paling ngga nulis otobiografi deh. Karena gak komersial, alias gak ada penerbit yang mau, ya terbitkan aja sendiri. Jadi nulis sendiri nerbitin sendiri..jual kemana? ya terbatas aja, dibagi-bagi gratis…lah muter2 disitu aja dong ya..gak apa..toh yg penting sudah dibukukan memoarnya.
Menulis naskah buku non-fiksi butuh pengetahuan teknis tentang materinya. Bahkan perlu kita tetapkan dulu, gaya atau alur apa yang akan kita pakai untuk membahas buku. Ada yang pakai alur waktu. jadi kalau mau menulis buku tentang wirausaha, maka bab 1 adalah mendirikan usaha, bab 2 menjalankan usaha, bab 3 usaha berkembang dan sebagainya. Ada juga yang pakai alur proses, misalnya mau menulis keuangan perusahaan. Bab 1 akan memuat penjualan, bab 2 penerimaan kas, bab 3 menggunakan uang kas…dsb.Jadi intinya kita harus tahu buku ini akan menggunakan alur pembahasan seperti apa. Bagaimana untuk menetapkan alur? baca beberapa buku sejenis. usahakan kita membaca sekitar 5 buku sejenis, dan pahami alurnya. setelahnya silakan pilih hendak menggunakan alur pembahasan mengikuti salah satunya, menggunakan alur yang total baru atau kombinasi dari alur yang kita baca. Lebih enak lagi kalau buku-buku itu bukan buku yang diterbitkan di Indonesia alias bukan buku lokal. jadi lebih luas wawasan nya. Cari aja buku-buku gratis melalui google.
Kalau sudah alur kita dapat, tentu saja materi-materi pokok yang nantinya menjadi bab juga sudah dapat dirangkai. Nah mulailah kita tulis outlinenya. Habiskan waktu yang cukup untuk tulis outline, karena ini bagian penting dari buku. contohnya begini, bab 2 memulai usaha. 2.1 dokumen yg diperlukan (2 halaman), 2.2 prosedur mendapatkannya (2 hal), 2.3 identifikasi sumber modal (2 hal) 2.4 identifikasi pasar bahan baku (1 hal) 2.5 peralatan (3 hal). Dengan adanya outline ini, kita nanti akan sangat terbantu untuk menyelesaikan tulisan. Outline memungkinkan kita menjaga ‘kedalaman’ tulisan atau masing-masing bab secara proporsional. kecenderungannya kalau bahasan kita suka maka kita akan bertele-tele dan berpanjang panjang. sebaliknya kalau kita tidak suka atau tidak menguasai, maka cenderung pendek saja. PErbedaan kedalaman penulisan ini akan terdeteksi dan membuat alur buku menjadi timpang, yang penting dibahas sekilas yang tidak penting bertele-tele. Outline juga memungkinkan kita menyicil penulisan. Bisa dimulai dari mana saja. Jadi ketika nunggu dokter gigi, bisa mulai dari bab 5.4 misalnya, tergantung penguasaan kita akan materinya. Jadi outline menuntun kita untuk menulis dimulai dari mana saja, dengan kedalaman yang terjaga.
Berikutnya membaca referensi. Beberapa tulisan perlu dibaca untuk kemudian disarikan ke dalam tulisan kita. nah ini menuntut kita harus berhenti dulu menulisnya, baca referensi untuk bab itu. Kalau malas, silakan saja teruskan bab lain dan tinggal saja bab ini.
Outline jadi, penulisan sudah dimulai, referensi sekali sekali bisa dilihat, menulis menjadi suatu proses perjalanan panjang. kadang mati angin..jangan kuatir, tulis saja kata pengantar atau daftar pustaka, pokoknya keep moving. jangan pernah berhenti kalau sudah mulai, karena moment nya nanti susah diperoleh lagi. jadi kalo lagi mentok, tetap aja nulis tapi yg ringan2 aja, profil penulis, kata pengantar, pendahuluan, daftar pustaka, perbaiki tabel atau grafik atau lainnya.
Sesudah naskah jadi, silakan dibaca lagi pelan-pelan, paling ngga habiskan 2 hari untuk editing. Yang diedit paralel adalah bahasa.. penulisan EYD serta kelancaran alur bahasa. Lalu edit isinya, mungkin ada sub bab yang perlu ditambah atau dihilangkan atau dimodifikasi. terakhir edit tata letak, grafik dsb. Kalau itu semua sudah jadi, silakan masuk ke pasar bebas.
Penerbit buku mengenakan aturan yang hampir standar. Kita kirim ke mereka naskahnya, bisa electronic file bisa juga hard copy. Detail apa saja yang dikirim bisa dilihat di web mereka. Umumnya semacam proposal, kenapa buku ini perlu siapa pasarnya apakah anda dosen (mereka suka kalau buku ini menjadi bahan kuliah mahasiswanya) apalagi kalau dosen di banyak universitas. Sinopsis buku itu sendiri supaya editor bukunya bisa memulai review. Umumnya setelah content OK dibicarakan dengan bagian marketing untuk lihat pasarnya. Ini yg membuat buku2 di Indonesia jarang yang bermutu atau berat isinya karena ikut pasar terus. Boleh sih..tapi masa sih semua didikte pasar?
Kalau ternyata memenuhi syarat buat diterbitkan (paling lama 2 bulan reviewnya) mereka kirim surat, pemberitahuan. Mulai saat itu buku kita diedit, didisain layout dan covernya, bahasa diperbaiki, diset ulang ketikannya, gambar dll. Menerima surat ini sendiri sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Itu artinya buah pikiran kita pantas dan layak diketahui umum. Dahsyat kan? Bolak balik deh kita diminta tambahin ini itu..paling 2 bulan, selesai sudah seperti buku. Kita diminta sekali lagi untuk lihat sebelum dicetak. Kalau semua OK dicetak deh 3000 exp. dan kita dibagi sekitar 10 exp, buat kenang2an. Boss kita perlu kita kasih 1 exp yg kita tandatangani tentunya. Nanti ketika ke toko buku sama anak2..mereka pasti lihat buku yang ada foto kita…sambil kaget..wuih bangganya jadi orang tua. eh ni beneran..dosen ku ternyata sama juga, punya buku yagn diterbitkan gramedia dan puaskan ketika anaknya kaget foto bapaknya ada di buku yg dipajang di toko buku. Royaltinya 10% dari harga buku dan dibayarkan setiap 6 bulan. Makanya gak heran kalo jadi penulis buku serius di indonesia gak bisa deh buat hidup. royalti kecil dibayar lama..kalo buku serius, orang jarang beli..jadi royalti makin kecil.
Kalau gak mau ke penerbit, boleh aja cetak sendiri, lapor ISBN nya ke perpustakaan nasional..lalu edarkan sendiri. Tinggal ke distributor aja..dan mereka akan masukkan buku kita ke toko buku se indonesia (kalo cetak 3000 exp) dengan potongan 55% buat mereka dari harga jual. Jadi kira2 dari harga di toko buku 100 ribu, buat distributor 55 ribu termasuk toko buku, kita yg cetak bukunya menghabiskan sekitar 20 ribu per buku, sisanya profit kita 25 ribu buat penulis..tuh apakan..gak bisa deh kita mengandalkan nulis buku buat hidup kalao lihat persentasenya. apalagi kalo buku gak laku..tamat deh. boro-boro royalti, sama distributor buku langsung diretur buku kita..menuhin toko buku n gudang distributor aja nih..mending dipulangin aja deh…sedih kan?
Sejak reformasi, penerbitan boleh semaunya saja. Dulu harus perusahaan dan anggota IKAPI, sekarang kita sendiri bisa. MAsalahnya distributornya, karena toko buku gak mau melayani supplier perorangan kayak penulis. repot kan nanti administrasinya. jadi toko buku menerima buku dari distributor, distributor dari kita penulis dan pencetak.
Nah kalau lihat prosesnya gak ada yang susah kan? mari mencoba…




