Salah satu payahnya pendidikan kita di Indonesia ini tidak mendorong agar siswa rajin menulis. Jadi kemampuan menuangkan gagasan,argumentasi melalui tulisan yang terstruktur baik tidak pernah secara sistematis dibangun. Dulu waktu SD masih ada pelajaran mengarang..sebagai bagian dari pelajaran bahasa indonesi. Sesudah SD..gak jelas lagi terusannya. Pas kuliah ketemu deh nulis argumentasi dan gagasan..apalagi kalo ditingkat S2,S3..makin banyak deh tugas menulis. Mungkin bener juga ya..bangsa ini memang lebih suka berbicara…daripada menulis. Lihat aja pertumbuhan pengguna HP..sangat cepat. jadi buat kita nampaknya menerangkan sesuatu jauh lebih mudah daripada menuliskannya.
Menulis artikel, mengirimkan ke editor koran dan dimuat benar2 menimbulkan kesenangan tersediri. Bayangkan saja, opini serta ide kita..dibaca oleh banyak orang. Apa lagi kalau ada orang yang mengirim e-mail atau apa gitu menanggapinya. Jika kita rajin menulis dengan fokus bidang tertentu, yang sama, akan membuat kita dianggap pakar untuk bidang itu..dan akan dimintai pendapatnya oleh wartawan..ketika issue di bidang tadi muncul. Misalnya kita konsisten nulis perpajakan..ketika ada issue perpajakan, bisa jadi kita ditelfon wartawannya dimintai pendapat. Tentu saja tulisan yg dimuat akan diberi honor oleh koran.
Pertama kali nulis di koran, tentu saja ditolak. Mending kalau ditolaknya pakai berita, dibiarkan saja tuh. Makanya kalau baru menulis, tahu diri aja. Kompas itu termasuk harian yg paling bergengsi. Jadi jangan mulai dari sana. Kalau kita kirim pun gak ditanggapi. Gw mulai dari Republika, lalu Suara Pembaruan..sudah mulai pede, ke harian Bisnis Indonesia..dan terakhir Jakarta Post. Jpost paling enak, 2-3 hari gak ada berita, good news. Kalo dalam 1-2 hari dapet e-mail dari editor (dulu Kornelius Purba)..alamat ditolak tuh. Bisnis Indonesia gak pernah kasih kabar, tapi kalo seminggu gak dimuat artinya ditolak.
Setelah merasakan ditolak tanpa berita, cita-cita gw kalo jadi editor mewajibkan semua tulisan untuk dibalas. biar cuma balasan dengan kalimat standar..pokoknya harus dibalas. Kedua, kadang-kadang tulisan itu tergantung yang ngirim. Kalo pejabat, petinggi, tokoh..pasti dimuat. padahal kita tau, mana sempat itu orang nulis..pasti ada ghost writernya tuh…sirik deh gw.
Menulis artikel di koran memiliki karakteristik sendiri. Tulisan harus singkat, padat,berisi opini kita tentang sesuatu hal yang sedang populer…ini perlu digaris bawahi. Kalau issuenya tidak sedang laku, gak peduli tulisannya bagus kayak apa..pasti gak dimuat. Kalo lagi seperti ini..demam reshuffle..nulislah tentang kinerja kementerian..jangan tentang pilkada. Tulisan tidak boleh terlalu ilmiah (tulisan yang mengandung grafik,catatan kaki, tabel..biasanya akan dibuang). Yang paling penting kita menghadapi dua pembaca. Editor yang relatif sudah paham issue, kedua, pembaca umum. Jadi jangan pernah nulis yang njelimet, bertaburan istilah-istilah teknis, data angka2 yang ruwet, mengutip dari jurnal ilmiah dsb dan bahasa yang benar tapi mirip pidato pejabat.
Tulisan biasanya tidak panjang-panjang, max 1.100 words, silakan dinyalakan saja fungsi word-count nya ..kalau pakai Word bisa dilihat dibawah sekali..sudah berapa kata kita tulis. Tulisan gak usah pakai sub-judul banyak2 seperti pendahuluan, isi dan simpulan..Tulisan koran ini langsung aja…pengantar, isi dan ide kita apa. Lebih pendek dari situ boleh, tapi minimum 800 kata kalo gak salah.
Tulisan harus dibidang kita. Editor mencari penulis yang pakar dibidangnya, tetapi juga mampu menulis untuk pembaca awam. Tentu saja ada pengecualian..untuk para selebritas politik, tentu saja dimuat..meskipun tidak memenuhi pakem diatas. Bersamaan dengan tulisan kita, disertakan juga cv atau resume, kalau bisa di scan aja KTP kita sekalian, biar valid. CV berguna untuk editor melihat kompetensi. disini juga kita buat daftar tulisan-tulisan kita sebelumnya, baik ilmiah maupun populer, kalau pernah nulis buku juga silakan disebutkan. Kalau nanti sudah sering dimuat, makin panjang daftarnya, makin mudah juga ‘menembus’ radar editor. Tulisan yang disukai tentu saja yang aplikatif, jadi jangan menulis tentang apakah climate change, model2 penelitian serta tentangnya. mending nulis bagaimana nelayan bisa diberdayakan untuk beradaptasi dengan climate change…lebih praktikal kan?
Jadi kalau mau mulai nulis, silakan aja mulai dengan 1500 kata..dibuat dulu outlinenya. lalu diisi kalimat-kalimatnya. Dari situ diedit lagi biar lebih pendek dan singkat. Berikan kesan bahwa anda memang ahli di bidang ini. Tulisan dikirim via e-mail aja. biar murah. Kirim tulisan, resume lengkap, terutama tulisan2 anda sebelumnya, foto kalau ada. Lalu berdoa deh..semoga diterima. Alamat e-mailnya mana? lihat aja di website korannya. biasanya opini@ apa gitu..atau redaksi@… kalao gak ada kabar dijangka waktu diatas, gak usah ditelfon. diemin aja, berarti ditolak. Silakan kirim lagi ke media lain. Kalau semua sudah dikirim, gak dimuat juga..ya sudah. simpan aja. Tulisan tentang kenaikan tarif tol..gak dimuat, biar saja. Tahun depan kan pasti ada tol yg naik lagi tarifnya, silakan dikirim lagi..tentu dengan edit yang lebih bagus.
Nulis di Jakarta Post lebih mengharuskan. naskah harus bahasa inggris meskipun nanti diedit lagi. Hasil editan mereka luar biasa. kita sampai gak kenal lagi apa ini tulisan kita bukan. tapi tetap tidak merubah paragraph dan isinya. luar biasa editornya. Jpost membolehkan kita pasang alamat e-mail. jadi misalnya di akhir tulisan disebut: The writer is lecturer at Perbanas Graduate School and can be reached at:pahalanainggolan@gmail.com. Lihat deh nanti respon pembaca ke e-mail kita.
Cek tulisan dimuat atau tidak bisa dua macam. Pertama beli korannya tiap terbit. Kedua lihat halaman on-line nya, meskipun telat. Gw waktu itu beli korannya. Pas ngeliat di halaman opini dimuat, waduh rasanya seneng banget. Rasanya hari itu kita sudah jadi penulis kawakan se dunia. tapi biasa kan..tulisan berikutnya berikutnya rasa senangnya mulai pudar. Nanti kalo baru nulis ke jpost dan dimuat, senangnya keluar lagi..lalu terus meredup.
Jpost kasih honor sekitar 650 ribu setiap dimuat. Bisnis indonesia kurang dari itu, tapi sekitar 600 ribuan. koran daerah sih katanya jauh lebih kecil. Kompas paling besar tentunya. gw sendiri gak pernah tembus kirim ke kompas. Temen gw kena racun nulis dan mulai kirim artikel. dasarnya dia memang praktisi perpajakan..alhasil sekarang namanya dikutip sebagai pengamat pajak. Ada juga yang keracunan nulis, dia dosen. Eh sama universitasnya setiap tulisan terbit diganjar honor tambahan 350 ribu. karena mengharumkan nama universitasnya. Gw pernah dapet kartupos dari humas UI. Mereka terima kasih karena aku konsisten nulis keterangan: penulis adalah mahasiswa program doktor manajemen UI. he..he..soalnya editor demen tuh kayak gini-gini…ya ikut aja.
Ok? ayo mulai nulis..apa aja..yg enak sih jangan mikir dimuat nggak nya..apalagi jangan mikir honornya. keep writing !! gagasan itu harus dicurahkan..supaya masuk gagasan baru lagi. Nulis itu seperti danau dengan sungai mengisinya. Kita membaca seperti sungai mengalir ke danau. Kita menulis seperti sungai keluar dari danau. Jadi banyak baca, banyak nulis bikin danau pikiran kita airnya segar…

